- Sambang Desa di Talang Jerinjing, Polsek Rengat Barat Temukan Warga Inspiratif
- Sambang Desa di Talang Jerinjing, Polsek Rengat Barat Temukan Warga Inspiratif
- Satgas PKH Ditantang, Eks Kebun PT SAL Masih Dihuni Pekerja dan Security Lama
- Sekolah Perlu Pahami Hak dalam Pemberitaan, JMSI Inhu Gelar Sosialisasi Advokasi Pers
- Hendry Munief Dorong Pariwisata Rohul Mendunia: Bentuk Komunitas Digital dan Viralkan Kontennya
- Buktikan Janji dengan Kerja Nyata, Rubah Keluhan Warga Jadi Rasa Bangga
- Penataan TPA Muara Fajar Pekanbaru Berlanjut, Sistem WTE Segera Diterapkan
- Pemko Pekanbaru Klaim Penataan TPA Muara Fajar Alami Kemajuan Signifikan
- Pemko Pekanbaru Siapkan Pelebaran Jalan Bangau Sakti, Upaya Urai Kemacetan Soebrantas
- Pemko Pekanbaru Dorong Pelaku UMKM Tingkatkan Kualitas Produk
Smelter Nikel dengan Produksi Terbesar Dunia Dibangun di Pomalaa

VokalOnline.Com-- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Panjaitan meresmikan pembangunan smelter nikel di Blok Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara pada Minggu (27/11).
Kawasan industri nikel Blok Pomalaa ini merupakan kerja sama PT Vale Indonesia Tbk dengan perusahaan China Zhejiang Huayou Cobalt Company. Setelah beroperasi, pabriknya diperkirakan bisa menghasilkan 120 ribu ton nikel per tahun.
Dalam sambutannya, Luhut mengatakan pabrik High Pressure Acid Leaching (HPAL) ini akan memiliki produksi terbesar di dunia.
"HPAL yang terbesar di dunia itu ada di Indonesia dan orang nggak bisa bikin baterai kalau nggak ada HPAL ini. Jadi HPAL ini menjadikan satu ekosistem yang sangat penting buat kita," kata Luhut di Blok Polamaa, dikutip dari detikcom.
Luhut juga mengapresiasi dan mendukung penuh kerja sama yang dilakukan antara Vale dan Huayou. Ia pun bercerita kenal dengan bos Huayou Chen Xuehua.
"Saya bersama-sama dengannya (Chen) pergi ke Jerman, negosiasi dengan BMW, dengan VW dan dia dikejar-kejar karena punya teknologi yang bagus. Jadi begitu saya dengar dia kawin dengan Vale Indonesia, saya bilang ini adalah pilihan yang tepat," jelas Luhut.
Tidak hanya itu, Luhut juga menyebut kinerja perusahaan juga terlihat dari hasil pabrik pengolahan nikel HPAL milik Vale di Morowali Sulawesi Tengah. Saat ini, produksi maupun teknologinya dilihat telah berkembang cepat.
Maka dari itu, Luhut percaya proyek ini akan mendorong produksi HPAL hingga perkembangan electric vehicle (EV) di Indonesia.
"Proyek ini harus jalan, karena proyek ini membangu satu ekosistem, bukan membangun satu proyek. Kita ingin membangun satu ekosistem untuk satu litium baterai yang nanti bisa lari ke mobil listrik, bisa lari ke mana-mana," ujar Luhut.**Syafira
Berita Terkait :
- Ukraina Ingin Harga Minyak Rusia Dibatasi US$40 per Barel0
- Harga Emas Antam Loyo ke Rp979 Ribu per Gram di Awal Pekan0
- UMP Jatim Naik 7,8 Persen Jadi Rp2,04 Juta0
- Harga Daging hingga Telur Ayam Naik Pekan Ini0
- 29 Bank Gabung Jadi Peserta BI-Fast, Biaya Transfer Cuma Rp2.5000
_Black11.png)









