- Pastikan Situasi Aman Kondusif, Lapas Tembilahan Laksanakan Razia Insidentil Blok Hunian
- Hendry Munief dan Kemenpar Gelar Bimtek Promosi Wisata di Rohil: Latih Gen Z Manfaatkan Media Sosial
- Pemilik Akun Sasa Rasa Mak Dilaporkan ke Polisi, Diduga Cemarkan Nama Baik Bupati Kepulauan Meranti
- FORKI Riau Lepas 11 Karateka ke Kejurnas Bandung, Targetkan Medali dari 11 Kelas
- Wako Dumai Pimpin Upacara Hardiknas 2026, Tekankan Pentingnya Generasi Unggul
- Sikat Pengedar, Selamatkan Pelajar: Polsek Tempuling, Satu Informasi Warga Bisa Hancurkan Narkoba
- Kejari Meranti Bebasakan Tersangka Dalam Kasus Restorative Justice
- Wakapolda Riau Ungkap Jaringan Internasional di Polres Meranti Narkotika Jenis Sabu 27 Kilogram
- Wabup Muzamil Pimpin Upacara Hardiknas 2026, Tegaskan Pendidikan Bermutu untuk Semua
- Peringatan May Day di Selatpanjang Berlangsung Kondusif, Buruh Deklarasi Dukung Kamtibmas
Bakteri yang Terdapat Pada Bulu Kucing

Ilustrasi. Anda juga perlu berhati-hati ketika ingin menyentuh kucing, karena bulu pada kucing juga terdapat bakteri dan jamur (foto: Kompas.com)
Vokalonline.com- Dilansir dari CNN Indonesia -- Kucing memang hewan peliharaan yang menggemaskan. Tapi, Anda perlu berhati-hati terhadap bahaya yang ditimbulkan bakteri pada bulu kucing.
Kucing adalah salah satu hewan peliharaan yang disukai banyak orang. Tingkahnya yang menggemaskan menimbulkan rasa nyaman saat bermain dengannya.
Namun, Anda juga perlu berhati-hati terhadap berbagai penyakit yang bisa diakibatkan oleh kucing.Seluruh tubuh kucing diselimuti oleh bulu-bulu halus. Bukan tak mungkin jika di balik halusnya bulu-bulu tersebut, tersimpan bakteri dan jamur yang tak terkontrol. Berikut bahaya bakteri dan jamur bulu kucing, mengutip berbagai sumber.
1. Kurap
Kurap adalah infeksi jamur yang sangat menular. Umumnya kurap hadir dalam bentuk ruam yang melingkar. Mengutip Mayo Clinic, seseorang dapat tertular saat membelai hewan peliharaan. Penularan juga dapat terjadi saat menyentuh permukaan barang yang terkontaminasi jamur dari hewan yang terinfeksi. Orang yang sering melakukan kontak dengan hewan, memiliki gangguan pada sistem kekebalan tubuh, atau kerap menggunakan pakaian ketat memiliki risiko yang lebih tinggi terinfeksi jamur penyebab kurap.
2. Toksiplasmosis
Penyakit ini ditularkan melalui paparan parasit mikroskopis yang ditemukan dalam kotoran hewan. Meski kucing kerap membersihkan dirinya sendiri, bukan tak mungkin jika sisa kotoran masih menempel di tubuh kucing tanpa diketahui.
Penularan terjadi saat Anda tak sengaja menelan parasit dalam kotoran hewan. Beberapa gejala yang ditimbulkan di antaranya pembengkakan kelenjar getah bening, kelelahan, demam, dan sakit tenggorokan. Pada ibu hamil, toksoplasmosis bisa menjadi sangat serius. Penyakit bisa menyebabkan keguguran, kelahiran prematur, dan kondisi tertentu pada bayi baru lahir.
3. Leptospirosis
Penyakit ini umumnya menyebar melalui cairan urine hewan. Lesptospirosis merupakan penyakit infeksi bakteri dari hewan. Penularan umumnya terjadi saat seseorang tak sengaja menyentuh air seni atau sisa air seni yang terinfeksi. Bakteri dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka atau selaput lendir. Tanpa pengobatan, leptospirosis dapat berakibat serius. Penyakit bisa menyebabkan kerusakan ginjal, meningitis, gagal hati, gangguan pernapasan, hingga kematian.
4. Penyakit Lyme
Lyme adalah penyakit yang ditularkan melalui gigitan kutu yang terinfeksi bakteri. Kutu biasanya hidup di antara bulu-bulu kucing. Mengutip laman MDLinx, kucing dan anjing kerap terkena penyakit lyme karena gigitan kutu. Meski tak ada bukti yang menunjukkan bahwa lyme bisa ditularkan dari hewan ke manusia, namun kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit lyme.
5. Penyakit cakaran kucing
Penyakit cakaran kucing atau cat scratch disease (CSD) disebabkan oleh bakteri Bartonella henselae. Bakteri ini dibawa oleh 40 persen kucing suatu waktu dalam hidup mereka.
Penyakit ini bisa tersebar ke manusia saat kucing menjilati luka terbuka pada permukaan kulit atau saat menggigit dan mencakar. Namun, tak hanya dengan gigitan dan cakaran, bakteri ini juga bisa menyebar melalui bulu kucing yang tersentuh.
Biasanya, area yang terinfeksi bakal membengkak dengan kehadiran lesi yang menonjol. Dalam kasus yang lebih parah, seseorang dengan CSD dapat mengalami demam, sakit kepala, dan pembengkakan kelenjar getah bening.
(asr)
Berita Terkait :
- Tantangan Berat Tidur Teratur di Masa Pandemi 0
- Waspada Tanda Anda Mengalami Kelelahan0
- Kenali Tanda Tidur Anda Yang Berkualitas 0
- Pola Diet yang Tepat untuk Penderita Tukak Lambung0
- Makanan Kaya Serat untuk Kecantikan Kulit Kamu0
_Black11.png)









