Breaking News
- Sikat Pengedar, Selamatkan Pelajar: Polsek Tempuling, Satu Informasi Warga Bisa Hancurkan Narkoba
- Kejari Meranti Bebasakan Tersangka Dalam Kasus Restorative Justice
- Wakapolda Riau Ungkap Jaringan Internasional di Polres Meranti Narkotika Jenis Sabu 27 Kilogram
- Wabup Muzamil Pimpin Upacara Hardiknas 2026, Tegaskan Pendidikan Bermutu untuk Semua
- Peringatan May Day di Selatpanjang Berlangsung Kondusif, Buruh Deklarasi Dukung Kamtibmas
- Hari Kebebasan Pers Dunia: Menjadi Suluh dan Lokomotif Bangsa
- Selain Gandeng Meta, Anggota DPR Hendry Munief Minta Kemenekraf Gandeng Aplikator Lainnya
- Tak Mau Jadi Penonton, Pemuda Lirik Siap Ambil Peran di Sektor Migas
- Polres Inhil Ungkap Kasus Narkotika di Hotel Grand Tembilahan, Satu Pengedar Diamankan
- Polres Indragiri Hilir Gelar Apel Gabungan Peringati Hari Buruh sedunia 2026
Sikat Pengedar, Selamatkan Pelajar: Polsek Tempuling, Satu Informasi Warga Bisa Hancurkan Narkoba

Tempuling – Selasa (5/5/2026) pukul 14.00 WIB, Kantor Desa Mumpa tak lagi sunyi. Kursi-kursi dipenuhi wajah muda dari SMK dan SMP. Di depan mereka, seragam polisi dan jas putih berdiri berdampingan. Polsek Tempuling bersama Puskesmas Sei Salak datang membawa satu pesan: narkoba adalah musuh bangsa, dan anak Mumpa tak boleh kalah.
Kegiatan dibuka hangat oleh Kepala Desa Mumpa. Sambutannya singkat. Tapi sorot matanya panjang. Ia tahu, desa yang damai bisa porak poranda jika narkoba masuk. Karena itu ia gandeng polisi. Ia gandeng dokter. Ia gandeng anak mudanya sendiri. Karena menjaga Merah Putih dimulai dari menjaga kampung halaman.
Mewakili Kapolsek Tempuling, Kanit Samapta IPDA Ahmad Akhiruddin, S.I.P., M.H. hadir bersama Kanit Samapta IPDA Basar Hutahaean, S.H. Di sampingnya, Bhabinkamtibmas Desa Mumpa AIPDA Sudirman, S.H. Dari Puskesmas Sei Salak, dr. Yulia Supriadi maju ke depan. Tak ada sekat. Tak ada pangkat. Yang ada hanya satu niat: selamatkan generasi.
dr. Yulia Supriadi bicara dengan bahasa yang menyentuh. Tentang otak yang rusak. Tentang jantung yang berhenti. Tentang masa depan yang patah hanya karena satu pil. “Bahaya narkoba bukan cerita di TV. Ia nyata. Ia bisa datang dari teman. Dari rasa penasaran. Dari satu kali coba yang tak pernah cukup,” ucapnya. Para pelajar terdiam. Sebab yang dibicarakan adalah hidup mereka.
IPDA Ahmad Akhiruddin lalu berdiri. Ia tak menakut-nakuti. Ia mengingatkan. Tentang jenis-jenis narkoba yang makin licik bentuknya. Tentang jerat hukum yang menanti. Tentang keluarga yang hancur karena satu anggota terjerat. IPDA Basar Hutahaean menambahkan, “Lawan narkoba bukan tugas polisi saja. Ini tugas kita semua. Kalau cinta Indonesia, jaga adik kita. Jaga teman kita. Laporkan kalau ada yang mencurigakan.”
Sesi tanya jawab pecah. Tangan-tangan muda terangkat. “Pak, kalau teman sudah pakai, gimana cara bantu?” “Bu dokter, ciri orang pakai narkoba apa?” Pertanyaan polos. Tapi dari situlah perlawanan dimulai. Dari tahu. Dari peduli. Dari berani bertanya. Asmadi menutup acara dengan doa yang lirih. Meminta agar Mumpa dijauhkan dari barang haram. Agar anak-anaknya tumbuh jadi penjaga bangsa.
“Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat semakin memahami jenis dan dampak narkoba, serta mampu berperan aktif dalam memberikan informasi guna mencegah peredaran narkotika.” Sebab satu informasi bisa selamatkan satu nyawa. Satu kepedulian bisa jaga satu desa. Dan satu desa yang kuat, membuat Indonesia tak mudah goyah.
“Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan memperkuat sinergi antara kepolisian, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam memerangi penyalahgunaan narkoba.” Di Mumpa sore itu, sinergi itu nyata. Polisi tak menjaga sendiri. Dokter tak melawan sendiri. Rakyat tak dibiarkan sendiri. Semua bergandeng. Semua bergerak. Karena musuhnya sama: narkoba yang ingin merusak tiang bangsa.
Dari Desa Mumpa, Tempuling mengirim pesan ke seluruh Inhil: menjaga generasi adalah menjaga Indonesia. Dan selama Polsek, Puskesmas, Kepala Dusun, RT/RW, guru, dan pelajar mau duduk satu meja melawan narkoba, maka Merah Putih akan tetap berkibar. Di desa. Di dada. Di masa depan.(*)
Berita Terkait :
- 20 Polsek di Riau Tak Berwenang Lagi Tangani Perkara Pidana0
- IRT di Kempas Jadi Korban Pembunuhan Gara-gara Buah Sawit Busuk0
Write a Facebook Comment
Tuliskan Komentar anda dari account Facebook
View all comments
_Black11.png)









