- Bupati Asmar Lepas Calon Haji Meranti, Ingatkan Fokus Ibadah di Tanah Suci
- Polsek Tebing Tinggi Beraksi Berhasil Sikat Pengedar Sabu 18,87 Gram
- FORKI Riau Kirim 5 Karateka ke Kejurnas Bandung, TC Penuh Dimulai di GOR Rumbai
- JK, Kerusuhan Poso, dan Dramatisasi di Era Algoritma
- Hendry Munief: Lampung Tak Lagi Sekadar Gerbang, Kini Menuju Pusat Ekonomi
- Penguatan Kesiapsiagaan Hadapi Musim Kemarau dan El Nino, Pemerintah Gelar Apel Siaga Karhutla
- Diskusi dengan Wartawan, Syahrul Aidi Dorong Solusi Krisis Media Massa
- Gaungkan Semangat Hari Bumi, PEP Lirik Ajak Masyarakat Ubah Sampah Jadi Bernilai
- Pemkab Kuansing dan RAPP Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
- 21 Perkara Inkracht Dimusnakan Barang Bukti di Kejari Meranti
Harga Minyak Dunia Naik ke US$96 Usai The Fed Kerek Suku Bunga

VokalOnline.Com - Harga minyak mentah dunia naik pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB). Kenaikan harga dikarenakan penurunan pasokan minyak mentah AS, plus sentimen kenaikan suku bunga The Fed.
Mengutip Antara, Kamis (3/11), Badan Informasi Energi AS (EIA) merilis bahwa persediaan minyak mentah AS turun 3,1 juta barel selama sepekan yang berakhir pada 28 Oktober. Lebih besar dari perkiraan analis di angka 1,6 juta barel.
Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember naik US$1,63 atau 1,8 persen menjadi US$90 per barel di New York Mercantile Exchange.
Sedangkan, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari menguat US$1,51 atau 1,6 persen, menjadi US$96,16 per barel di London ICE Futures Exchange.
Pasar minyak mempertahankan reli, bahkan ketika saham jatuh dan dolar AS menguat setelah Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan terlalu dini untuk berpikir tentang menghentikan kenaikan suku bunga.
"Pasti ada banyak fokus pada fundamental pasokan atau permintaan dan persediaan yang kami lihat pada rilis (EIA) hari ini dan tentang kapan sanksi Rusia dimulai," ujar pedagang energi senior di CIBC Private Wealth US Rebecca Babin.
Di lain sisi, embargo Uni Eropa terhadap minyak Rusia akan dimulai pada 5 Desember. Larangan tersebut adalah reaksi terhadap invasi Rusia ke Ukraina, yang akan diikuti dengan penghentian impor produk minyak pada Februari 2023.
Hal ini diperkirakan membatasi kemampuan Rusia untuk mengirimkan minyak mentah serta produk lain ke seluruh dunia dan itu dapat memperketat pasar.
Sementara, produksi dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) turun pada Oktober untuk pertama kalinya sejak Juni, yakni menjadi 1,36 juta barel per hari atau di bawah targetnya.**Syafira
Berita Terkait :
- Menhub Klaim Jepang, Korea, dan Inggris Akan Investasi di Proyek MRT0
- Kabar XL Axiata PHK Karyawan Dibantah Manajemen0
- Bappebti Respons soal Kripto Diatur OJK dalam RUU PPSK0
- Jokowi Tetapkan Sanur Jadi Kawasan Ekonomi Khusus0
- KSPI Tidak Benar Ada PHK 45 Ribu Buruh Tekstil0
_Black11.png)









