- Bupati Asmar Lepas Calon Haji Meranti, Ingatkan Fokus Ibadah di Tanah Suci
- Polsek Tebing Tinggi Beraksi Berhasil Sikat Pengedar Sabu 18,87 Gram
- FORKI Riau Kirim 5 Karateka ke Kejurnas Bandung, TC Penuh Dimulai di GOR Rumbai
- JK, Kerusuhan Poso, dan Dramatisasi di Era Algoritma
- Hendry Munief: Lampung Tak Lagi Sekadar Gerbang, Kini Menuju Pusat Ekonomi
- Penguatan Kesiapsiagaan Hadapi Musim Kemarau dan El Nino, Pemerintah Gelar Apel Siaga Karhutla
- Diskusi dengan Wartawan, Syahrul Aidi Dorong Solusi Krisis Media Massa
- Gaungkan Semangat Hari Bumi, PEP Lirik Ajak Masyarakat Ubah Sampah Jadi Bernilai
- Pemkab Kuansing dan RAPP Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
- 21 Perkara Inkracht Dimusnakan Barang Bukti di Kejari Meranti
Mengapa Paham Wahabi Ditolak di Indonesia

Jakarta,VokalOnline.Com - Mazhab Wahabi menjadi perbincangan publik usai Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendesak pemerintah Indonesia melarang paham ini.
Permintaan ini merupakan salah satu poin hasil rekomendasi eksternal dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Dakwah PBNU yang digelar di Asrama Haji Jakarta, 25-27 Oktober 2022.
"Lembaga Dakwah PBNU merekomendasikan kepada pemerintah (dalam hal ini Kemenkopolhukam, Kemenkumham, Kemendagri, dan Kemenag) untuk membuat dan menetapkan regulasi yang melarang penyebaran ajaran Wahabiyah," demikian bunyi rekomendasi itu, seperti dikutip di laman resmi LD PBNU, pekan lalu.
Wahabi merupakan pemikiran Islam yang berpegang teguh pada purifikasi atau pemulihan Islam ke bentuk yang sesuai Alquran-hadis dan melarang inovasi.
Mengapa paham wahabi tidak diterima di Indonesia?
Pakar kajian Timur Tengah dari Universitas Indonesia Sya'roni Rofii mengatakan Wahabi sulit diterima masyarakat Indonesia karena ajaran Islam selama ini menyatu dengan budaya bangsa, sementara itu Wahabi sangat ketat terhadap pengaruh luar.
"Agak susah diterima masyarakat Indonesia karena Islam di Indonesia cenderung berakulturasi dengan budaya. Banyak sekali tradisi dan kebudayaan Indonesia berbaur dengan nilai Islam," kata Sya'roni kepada CNNIndonesia.com, Senin (31/10),dilansir dari cnn indonesia.
Ia kemudian berujar, "Sementara di sisi lain Saudi dengan Wahabinya sangat strict [ketat] dan menolak segala bentuk akulturasi Islam dan kebudayaan (bid'ah)."
Sya'roni juga mengungkapkan ada faktor lain yang membuat Wahabi sulit diterima terutama di kalangan NU. Sebagai organisasi masyarakat keagamaan terbesar di Indonesia, pengaruh NU sangat kuat dalam mewarnai karakter keislaman masyarakat yang lebih moderat.
Sya'roni turut menyinggung soal desakan larangan Wahabi di Indonesia. Menurutnya, sejauh ini pemerintah tidak memberikan larangan spesifik terhadap paham tersebut.
"Kalau untuk konteks Indonesia pemerintah tidak memberikan larangan spesifik terhadap Wahabi," ucap dia.
Jika ada larangan, lanjut dia, biasanya menargetkan pendakwah yang dianggap memicu konflik horizontal antar umat beragama.
Sementara itu, pengamat hubungan internasional dari Universitas Muhammadiyah Fahmi Salsabila menyoroti perbedaan mazhab antar Indonesia dan Saudi. Ia menuturkan Saudi memiliki mazhab resmi yakni Hambali, sedangkan Indonesia Syafii.
"Indonesia sebagian besar mazhab Syafi'i, beda dengan Saudi," kata Fahmi.
Menurut Fahmi, mazhab Wahabi tak lepas dari citra Saudi karena pendiri paham ini yakni cendekiawan dan pembaharu Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, berkontribusi dalam membangun negara kerajaan itu.
Pemerintah Saudi juga mengadopsi paham ini sebagai sistem politik dan menganggap pendirian Wahabisme sebagai bagian dari negara.
Mazhab Wahabi adalah pemikiran Islam yang ditujukan untuk pengikut Muhammad bin Abdul Wahab yang berpegang teguh pada purifikasi atau pemulihan Islam ke bentuk asli sesuai teks Alquran dan Hadis.
Selama ini, Wahabi identik sebagai paham yang tak ramah terhadap perempuan. Paham tersebut "merumahkan perempuan" dan menganggap suara mereka sebagai aurat.
Selain itu, perempuan harus tunduk pada laki-laki yang dianggap lebih berkuasa.**Syafira
Berita Terkait :
- Cerita WNI Selamat dari Tragedi Halloween Itaewon Menyayat Hati0
- Menteri Israel Diklaim Masuk Daftar Musuh Ukraina yang Patut Dibunuh 0
- Bisakah Kreator Konten Twitter Dapat Duit bak YouTuber?0
- Rusia Setop Mobilisasi Parsial Tentara ke Ukraina, Putin Menyerah?0
- Terlalu Banyak Varian Produk, Apple Kehilangan Jati Diri?0
_Black11.png)









