- Wawako Pekanbaru Markarius Anwar Tekankan Pentingnya Sinergi di ASWAKADA 2026
- Angggota DPR RI Hendry Munief Berikan Catatan Penting saat Musrenbang RKPD 2027 Pemprov Riau
- Pertandingan Tinju Menambah Semarak Hari Jadi Kota Dumai ke 27
- Kontribusi Besar Alih Daya PDC dalam Mendukung Pemenuhan Kebutuhan Energi Bagi Negeri
- KNARA Gelar Rapat Akbar di Inhu, Konflik HTI dan HGU Jadi Perhatian
- Bupati Asmar Minta JCH Meranti Doakan Kebaikan untuk Daerah
- Kejari Meranti Kembali Galakkan Jaksa Masuk Sekolah Ajak Siswa Sadar Dengan Hukum
- Saat Wisuda Sekolah Wirausaha Aisyiyah Riau, Hendry Munief Sebut Perempuan Berpotensi Gerakkan UMKM
- Dumai Expo 2026: Promosi Daerah Bangkitkan Ekonomi dan Pariwisata
- Walikota Pimpin Upacara HUT Kota Dumai ke-27, Soroti Program Unggulan
Ormas Islam Protes Keras Kontes Busana Transpuan di Surabaya

Surabaya, vokalOnline.Com - Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) Jawa Timur menolak acara 'Evening Dress Transpuan Competition' yang akan digelar di Surabaya. Acara itu dinilai menyebarkan kemaksiatan dan berbahaya bagi akhlak masyarakat.
Sekjen GUIB Jatim Mochammad Yunus menyatakan kompetisi yang diadakan di Royal Plaza Surabaya, Kamis (24/11), itu harus dibatalkan.
"Penyelenggaraan kompetisi ini berpotensi memunculkan penyakit sosial yang berdampak pada merebaknya kemaksiatan, kemungkaran, menjadi basis perdagangan narkoba dan obat-obat terlarang, minuman beralkohol, perjudian, penyimpangan seksual, prostitusi terselubung, promosi LGBT serta prilaku amoral lainnya," kata Yunus melalui keterangan tertulisnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (21/11).
Menurutnya, hal itu sudah bertentangan dengan ajaran agama, Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 serta bertolak belakang dengan arah pembangunan nasional.
Ditinjau dari aspek sosiologis, kata Yunus, dampak Evening Dress Transpuan Competition, juga dapat merusak nilai-nilai luhur dan pranata sosial yang ada dalam kehidupan bermasyarakat.
"Ditinjau dari aspek etika dan sopan santun, dampak kompetisi ini dapat merusak etika, moral dan akhlak serta sendi-sendi kehidupan bermasyarakat yang baik," katanya.
Selain itu, acara tersebut juga dapat memberikan dampak pada perubahan sikap dan perilaku masyarakat, pergaulan bebas, hedonisme, relativisme, skeptisisme dan agnostisisme yang mengarah pada tergerusnya nilai-nilai luhur dan jati diri bangsa.
"Dari perspektif keamanan, kegiatan ini berpotensi memunculkan gangguan keamanan, ketenteraman dan ketertiban masyarakat yang berujung pada terganggunya kondusifitas kehidupan sosial kemasyarakatan, berbangsa dan bernegara di wilayah ini," ucapnya.
Yunus menilai tempat pelaksanaan kompetisi tersebut, yakni Royal Plaza adalah wilayah permukiman yang padat penduduk, berdekatan dengan tempat ibadah dan lembaga-lembaga pendidikan.
"Sehingga memiliki daya rusak signifikan bagi masyarakat, umat beragama dan murid murid di sekolah maupun mahasiswa di sekitar tempat pelaksanaan kompetisi ini," ucapnya.
Mereka pun meminta, kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan jajaran kepolisian untuk membubarkan dan tidak memberikan izin kepada acara tersebut.
"Kami meminta Pemerintah Provinsi Jatim dengan serius melindungi warganya dari bahaya perusakan akhlak dan moral masyarakat dengan menolak permohonan izin pelaksanaan kompetisi ini dan dampak negatif yang ditimbulkannya," katanya.
CNNIndonesia.com telah berupaya mengonfirmasi pihak penyelenggara Evening Dress Transpuan Competition, namun yang bersangkutan belum memberikan respons.**Syafira
Berita Terkait :
- China Mau Ketemu AS di Kamboja, Makin Mesra usai dari Bali0
- Penembak Kelab Gay AS Diduga Sama dengan yang Tebar Ancaman Bom 20210
- Siapa Mohd Suhaimi, yang Bikin KO Mahathir di Pemilu Malaysia?0
- KTT APEC Rusuh, Polisi Thailand Tembak Peluru Karet Bubarkan Demo0
- Polres Inhu Bagikan Makanan Gratis Untuk Masyarakat Kota Rengat 0
_Black11.png)









