- Ketika Seragam Polri Basah Keringat Demi Rakyat, Sejumlah Jembatan Inhil Rampung Tanpa Kendala
- Bupati Asmar Lepas Calon Haji Meranti, Ingatkan Fokus Ibadah di Tanah Suci
- Polsek Tebing Tinggi Beraksi Berhasil Sikat Pengedar Sabu 18,87 Gram
- FORKI Riau Kirim 5 Karateka ke Kejurnas Bandung, TC Penuh Dimulai di GOR Rumbai
- JK, Kerusuhan Poso, dan Dramatisasi di Era Algoritma
- Hendry Munief: Lampung Tak Lagi Sekadar Gerbang, Kini Menuju Pusat Ekonomi
- Penguatan Kesiapsiagaan Hadapi Musim Kemarau dan El Nino, Pemerintah Gelar Apel Siaga Karhutla
- Diskusi dengan Wartawan, Syahrul Aidi Dorong Solusi Krisis Media Massa
- Gaungkan Semangat Hari Bumi, PEP Lirik Ajak Masyarakat Ubah Sampah Jadi Bernilai
- Pemkab Kuansing dan RAPP Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
Puluhan Kerbau di Kampar Mati Mendadak
>Penyakit Sapi Ngorok Menyebar Luas

Salah satu kerbau mati di kubangan secara mendadak di Kabupaten Kampar.
PEKANBARU, VokalOnline.Com -Penyakit Septicaemia epizootica atau sapi ngorok di Kabupaten Kampar meluas. Dari awalnya yang ditemukan di Kecamatan XIII Koto Kampar, penyakit yang menyebabkan kerbau mati dengan cepat ini ditemukan di Kecamatan Tambang dan Kecamatan Kampa.
Video kerbau mati diduga karena penyakit sapi ngorok di dua kecamatan tersebut sudah beredar di media sosial. Video itu memperlihatkan puluhan kerbau mati di kubangan serta kebun sawit.
Dalam video itu, kerbau mati mengeluarkan darah dari mulut. Kerbau yang mati terlihat gemuk sehingga diduga tidak ada penyakit lainnya yang diidapnya selain sapi ngorok.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan di Dinas Peternakan Provinsi Riau, Faralinda Sari, membenarkan adanya temuan sapi ngorok di dua kecamatan tersebut. Hanya saja dia mengaku belum mendapatkan data pasti.
"Saya masih menunggu informasi dari Kampar," kata Faralinda, Senin siang, 26 September 2022.
Menurut Faralinda, meluasnya penyakit ini karena dugaan perpindahan kerbau dari kecamatan sebelumnya ke kecamatan lain. Pasalnya di Kecamatan XIII Koto Kampar ada aksi jual beli secara besar-besaran setelah kasus sapi ngorok memakan korban.
"Kerbau dijual dengan harga murah dan dibawa ke beberapa lokasi, ini yang diduga menjadi penyebab," ujar Faralinda.
Untuk mencegah penyakit ini meluas, tambah Faralinda, salah satu jalannya adalah vaksinasi. Hanya saja, peternak di Riau masih rendah keinginan untuk memberikan vaksin kepada ternak.
Salah satu alasan rendahnya keinginan vaksin karena penyakit seperti ini terbilang jarang. Padahal ketika mewabah, tingkat kematiannya kepada ternak adalah 90 persen.
"Penyakit seperti ini berpotensi terjadi di Kabupaten Kuantan Singingi dan Rokan Hulu, di sana banyak kerbau," jelas Faralinda.
Sebagai antisipasi tidak menyebar, Faralinda menghimbau peternak membuat kandang untuk ternak. Peternak dihimbau tidak melepaskan kerbau dan sapi di padang rumput.
"Potensi penularan di padang rumput sangat besar," tegas Faralinda. (syu)
Berita Terkait :
- Polda Riau Tangkap Pengoplos Gas Elpiji0
- Kajati Riau Berikan Tausiah Kepada Pegawai0
- PWI Riau Kembali Gelar UKW Gratis untuk 7 Kelas 0
- Polwan Penganiaya Warga Dipenjarakan0
- PT RAPP Kembali Gelar ToT Fasda 0
_Black11.png)









