- Diskusi dengan Wartawan, Syahrul Aidi Dorong Solusi Krisis Media Massa
- Gaungkan Semangat Hari Bumi, PEP Lirik Ajak Masyarakat Ubah Sampah Jadi Bernilai
- Pemkab Kuansing dan RAPP Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
- 21 Perkara Inkracht Dimusnakan Barang Bukti di Kejari Meranti
- 110 Jemaah Calon Haji Meranti Akan Berangkatkan Senin di Embarkasi Batam
- Rianto SH, MH Disorot, 70-an Peserta Ramaikan Seleksi KI Sumut 2026
- FORKI Riau Fokus TC Penuh Jelang Kejurnas Bandung, Perangkingan Atlet Digelar 26 April
- Temui Menteri ATR/BPN dan Dirjen Migas, Bupati Afni Perjuangkan Hak Rakyat Kandis dan Minas
- Pengedar Ganja di Banglas Dibekuk Berkat Layanan 110, Polisi Amankan BB dan Tes Urine Positif
- Stok BBM Kepulauan Meranti Aman, Warga Diimbau Beli di SPBU Sesuai Ketentuan UUD 1945
Gajah Sakit yang Sempat Diobati BBKSDA Riau Ditemukan Mati

Bangkai gajah di Kabupaten Pelalawan. IST
PEKANBARU (VOKALONLINE.COM) - Gajah betina sakit yang sempat dirawat tim medis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau ditemukan mati. Gajah mati ini sudah dikubur oleh petugas tanpa mengambil sampel untuk dikirim ke laboratorium.
Plt Kepala BBKSDA Riau Fifin Arfiana Jogasora menjelaskan, informasi gajah mati ini diterima pihaknya pada 27 Oktober 2021. Lokasinya di Bukit Apolo, Desa Bagan Limau, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan.
Gajah ini berasal dari Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Kemudian ditindaklanjuti oleh pengelola balai TNTN setelah berkoordinasi dengan BBKSDA Riau.
"Petugas bergerak pukul 22.00 WIB dan sampai dini hari atau pukul 03.15 WIB," kata Fifin, Selasa petang, 2 November 2021.
Selanjutnya pada 28 Oktober 2021 pukul 08.00 WIB, setelah menemukan bangkai gajah mati itu, petugas melakukan nekropsi atau bedah bangkai. Dari sini, petugas menyimpulkan gajah punya tinggi badan 2,17 centimeter dan berat badan 2 ton.
Kemudian, tambah Fifin, tebal kulit perut 0,4 centimeter dan tebal kulit punggung 1,2 centimeter. Dari ciri-ciri fisiknya, gajah mati ini merupakan gajah sakit yang sebelumnya dirawat oleh petugas pada 23 Oktober 2021.
Saat itu, pengobatannya berlangsung di Desa Pontian Mekar, Kecamatan Lubuk Batu Jaya, Kabupaten Indragiri Hilir. Saat sakit, gajah masuk perkebunan kelapa sawit milik masyarakat setempat.
Usai diobati, gajah bergerak menjauh dan diduga kembali ke TNTN. Petugas yang memantau sempat kehilangan jejak hingga akhirnya gajah ditemukan mati.
"Gajah sumatra tersebut diperkirakan mati pada Selasa pagi, 26 Oktober 2021, yang disebabkan infeksi organ pencernaan, malnutrisi dan dehidrasi," tegas Fifin.
Ketika dilakukan nekropsi, petugas tidak mengambil sampel untuk dikirim ke laboratorium karena semua organ dalam tubuh sudah rusak.
"Oleh karena itu seluruh organ dalam tubuh langsung dikuburkan," kata Fifin. (syu)
Berita Terkait :
- Bank BJB Gelar Rangkaian Talkshow Mesrakan UMKM0
- Donatur H Asnimar Buka Turnamen Voli Pulau Tinggi0
- Perkuat Kerjasama, Rektor UIN Teken MoU dengan SPS Cabang Riau 0
- Seorang Tahanan Narkoba Kabur dari Polresta Pekanbaru Pada Siang Bolong0
- Kejari Kuansing Laporkan Hakim ke Komisi Yudisial0
_Black11.png)









