- Ketika Seragam Polri Basah Keringat Demi Rakyat, Sejumlah Jembatan Inhil Rampung Tanpa Kendala
- Bupati Asmar Lepas Calon Haji Meranti, Ingatkan Fokus Ibadah di Tanah Suci
- Polsek Tebing Tinggi Beraksi Berhasil Sikat Pengedar Sabu 18,87 Gram
- FORKI Riau Kirim 5 Karateka ke Kejurnas Bandung, TC Penuh Dimulai di GOR Rumbai
- JK, Kerusuhan Poso, dan Dramatisasi di Era Algoritma
- Hendry Munief: Lampung Tak Lagi Sekadar Gerbang, Kini Menuju Pusat Ekonomi
- Penguatan Kesiapsiagaan Hadapi Musim Kemarau dan El Nino, Pemerintah Gelar Apel Siaga Karhutla
- Diskusi dengan Wartawan, Syahrul Aidi Dorong Solusi Krisis Media Massa
- Gaungkan Semangat Hari Bumi, PEP Lirik Ajak Masyarakat Ubah Sampah Jadi Bernilai
- Pemkab Kuansing dan RAPP Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
Inhu Pusat Peradaban Adat Melayu dan Sejarah Kerajaan Indragiri
Icon Kerjaan Indragiri Jadi Acuan Pembangunan

Erwin Dimas SE DEA cucu dari Encik Alie Datuk Bendahara Kerajaan Indragiri yang juga Bupati pertama Indragiri hulu saat wawancara dengan pemimpin redaksi VokalOnline.Com
Inhu, Vokalonline.Com - Pada abad ke 13 disebutkan kerajaan Indragiri yang berpusat di Kabupaten Indragiri hulu (Inhu)-Riau, sudah ada. Berdasarkan beberapa penelitian kerajaan Indragiri dipimpin oleh seorang sultan. Sultan ke XXV terakhir adalah Soeltan Mahmoedsjah Ibni Soeltan Isa Moedojatsjah dan Datuk Bendahara adalah Entjik Alie Ibni Entjik Lambak.
Pemerintah republik Indonesia haruslah memperhatikan Inhu sebagai pusat peradaban adat melayu dan sejarah kerajaan indragiri, dengan adanya perhatian pemerintah pusat maka pembangunan di sektor wisata guna memunculkan kembali Inhu sebagai pusat peradaban melayu dan kerajaan Islam di Indonesia bisa dilaksanakan.
Menanggapi Inhu sebagai pusat peradaban adat melayu dan peradaban kerajaan Islam di indragiri, Erwin Dimas SE DEA cucu dari Encik Alie Datuk Bendahara Kerajaan Indragiri mendukung penuh rencana icon tersebut.
"Terlepas dari tendensius apapun, Inhu harus dibangun disemua sektor, pertama adalah pada sektor budaya dan adat," kata Erwin Dimas anak mantan Bupati Inhil Drs H Bakir Alie yang saat ini Erwin Dimas berkarir di Bappenas RI berbincang dengan pemimpin redaksi VokalOnline.Com Sabtu (24/9/2022) di Pekanbaru
Mengetahui adanya replika istana kerajaan Indragiri yang tidak dilakukan perawatan sejak diresmikan tahun 2008 serta gedung lembaga adat di lokasi objek wisata danau raja rengat yang kondisinya memprihatinkan, membuat Erwin Dimas kecewa dan semua pihak diharapkan melakukan perawatan aset tersebut dan difungsikan sesuai dengan fungsinya.
"Dengan dijadikan Inhu sebagai pusat peradaban kerajaan melayu Islam di Indragiri yang dipimpin oleh seorang Sultan, mudahan rencana pembangunan secara terus menerus bisa dialokasikan dari anggaran perintah pusat," ujar Erwin.
Sebagaimana diketahui, Indonesia lahir dari kerajaan-kerajaan besar di Nusantara pada masa lampau. Setiap wilayah memiliki raja dan daerah kekuasaan sendiri yang mengatur jalannya kegiatan pemerintahan kala itu.
Setelah Indonesia merdeka, beberapa kerajaan itu masih eksis secara fisik dan memiliki raja meskipun tak lagi berdaulat, sebab kedaulatannya diserahkan langsung kepada Indonesia. "Kakek saya Encik Alie Datuk Bendahara Kerajaan Indragiri diminta Sultan pendapatnya tentang bergabung dengan Indonesia atau tetap menjalankan pemerintahan kerajaan, saat itu kakek saya menyarankan agar kerajaan Indragiri bergabung dengan Indonesia," kata Erwin Dimas.
Kerajaan Indragiri saat itu tetap ada namun, hanya mengurus adat, sedangkan Encik Alie Datuk Bendahara Kerajaan Indragiri diangkat menjadi bupati pertama Indragiri yang wilayahnya saat itu meliputi Inhil dan Kunasing.
"Saya mendukung Sultan Indragiri menjalankan tradisi kerajaan Indragiri yang berbentuk kegiatan kegiatan adat, sedangkan pemerintah kabupaten melakukan kegiatan pelayanan publik dan pembangunan Insfratruktur," ujar Erwin Dimas.
Saat ini di Indonesia kerajaan yang ada di Nusantara telah menyerahkan kedaulatan kepada Indonesia, namun sejumlah kerajaan diakui oleh pemerintahan Indonesia dan masih menjalankan tradisi kerajaan, seperti:
Kesultanan Cirebon
Kesultanan Cirebon adalah Kesultanan Islam ternama di Jawa Barat pada abad 15-16 Masehi. Lokasinya yang strategis menjadikan Kesultanan Cirebon sebagai jalur perdagangan dan pelayaran penting antarpulau pada masa itu.
Kesultanan ini menjadi jembatan kebudayaan Jawa Tengah dan Jawa Barat, sehingga terciptalah kebudayaan yang khas yakni kebudayaan Cirebon yang berbeda dari kultur Jawa maupun Sunda.
Kasultanan Cirebon didirikan Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana pada 1430. Usai berhaji, Pangeran Cakrabuana mengganti namanya sebagai Haji Abdullah Imam.
Kesultanan Yogyakarta
Kesultanan Yogyakarta atau Ngayogyakarta Hadiningrat mulanya merupakan bagian dari Kerajaan Mataram Islam yang terpecah dua. Pembagian wilayah kekuasaan tersebut tertuang dalam Perjanjian Giyanti pada 1755.
Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai sultan dengan gelar Hamengkubuwana I dan berkuasa atas daerah Yogyakarta. Setelah itu, Sri Sultan Hamengkubuwana I mendirikan keraton di pusat kota yang masih menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Yogyakarta.
Pada 1950, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat resmi menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta, sebuah pemerintahan daerah berotonomi khusus setingkat provinsi.
Sementara para penggantinya tetap mempertahankan gelar yang digunakan yakni Hamengkubuwana. Saat ini raja kesultanan Yogyakarta yang memerintah adalah Bendara Raden Mas Herjuno Darpito atau Sultan Hamengkubawana X yang menjabat sejak 1988.
Kasunanan Surakarta
Kasunanan Surakarta Hadinigrat adalah pecahan kedua dari Kerajaan Mataram Islam yang masih bertahan hingga sekarang. Kerajaan yang berpusat di Kota Surakarta atau Solo ini masih dijabat oleh Pakubuwana XIII.
Kasunan Surakarta adalah salah satu dari kerajaan di Indonesia yang masih ada sampai saat ini dan secara resmi telah menjadi bagian Negara Republik Indonesia (NKRI) sejak 1945.
Kompleks bangunan keratonnya masih berfungsi sebagai tempat tinggal Sri Sunan yang masih menjalankan tradisi kerajaan hingga saat ini.
Kesultanan Ternate
Kesultanan Ternate atau disebut juga Kerajaan Gapi adalah kerajaan Islam yang berada di Kepulauan Maluku. Kerajaan yang didirikan oleh Sultan Marhum pada 1257 ini juga merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Indonesia.
Kesultanan ini memiliki peran penting di kawasan timur Nusantara, dan mengalami kegemilangan pada paruh abad 16 berkat perdagangan rempah-rempah dan kekuatan militernya.
Kesultanan yang didirikan oleh Baab Mashur Malamo ini masih ada dan dijabat oleh Sultan Syarifuddin Bin Iskandar Muhammad Djabir Sjah sejak 2016, meskipun tidak lagi memegang kekuatan politik apa pun. **Vol-01
Berita Terkait :
- Wanita Muda diTangkap Satres Narkoba Polres Kampar, Memiliki Daun Ganja Kering 6,5 kilo0
- Tingkatkan Mutu, PSTI Riau Gelar Pelatihan Wasit Lisensi S-20
- Dirancang Kerja Sama, LAMR Dengan Awal Bros Untuk Kesehatan Masyarakat Adat0
- Harimau Masuk Kebun Sawit Warga0
- Lecehkan Kejaksaan Alvin Lim Dilaporkan ke Polresta Pekanbaru0
_Black11.png)









