- Ketika Seragam Polri Basah Keringat Demi Rakyat, Sejumlah Jembatan Inhil Rampung Tanpa Kendala
- Bupati Asmar Lepas Calon Haji Meranti, Ingatkan Fokus Ibadah di Tanah Suci
- Polsek Tebing Tinggi Beraksi Berhasil Sikat Pengedar Sabu 18,87 Gram
- FORKI Riau Kirim 5 Karateka ke Kejurnas Bandung, TC Penuh Dimulai di GOR Rumbai
- JK, Kerusuhan Poso, dan Dramatisasi di Era Algoritma
- Hendry Munief: Lampung Tak Lagi Sekadar Gerbang, Kini Menuju Pusat Ekonomi
- Penguatan Kesiapsiagaan Hadapi Musim Kemarau dan El Nino, Pemerintah Gelar Apel Siaga Karhutla
- Diskusi dengan Wartawan, Syahrul Aidi Dorong Solusi Krisis Media Massa
- Gaungkan Semangat Hari Bumi, PEP Lirik Ajak Masyarakat Ubah Sampah Jadi Bernilai
- Pemkab Kuansing dan RAPP Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
Kementerian ESDM Genjot Produksi Batu Bara 663 Juta Ton Tahun Ini

Kementerian ESDM menargetkan produksi batu bara tahun ini sebanyak 663 juta ton, di antaranya 166 juta ton untuk kebutuhan DMO.
Jakarta, VokalOnline.Com - Kementerian ESDM menargetkan menggenjot produksi batu bara sebanyak 663 juta ton pada tahun ini, dengan kewajiban pemenuhan kebutuhan dalam negeri (domestic market obligation/DMO) sebanyak 166 juta ton.
"Pada 2022 dari rencana produksi batu bara sebanyak 663 juta ton, rencana DMO adalah 166 juta ton," tutur Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam rapat dengar bersama Komisi VII DPR RI, Kamis (17/2) dilansir dari cnn indonesia.
Adapun realisasi produksi hingga saat ini, ia mengungkapkan baru tercapai 13 juta ton.
Arifin menyebut dalam lima tahun ke depan, kebutuhan batu bara dalam negeri untuk sektor pembangkit listrik dan industri diperkirakan terus meningkat, dari 163 juta ton pada tahun ini menjadi 208,5 juta ton pada 2025 mendatang.
Sementara, ia mengatakan rencana kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) tahun ini sebanyak 127,1 juta ton.
"Terdiri dari, PLTU milik PLN 64,2 juta ton dan Independent Power Producer (IPP) 62,9 juta ton dengan rata-rata kebutuhan mencapai 10 juta ton sampai 11 juta ton per bulan," terang Arifin.
Lebih lanjut ia mengatakan 5 langkah yang dilakukan Kementerian ESDM dan PLN untuk menjaga pasokan batu bara PLN tahun ini tetap aman, yakni pertama, Kementerian ESDM melalui Ditjen Minerba dan PLN telah menyiapkan sistem enforcement real time.
Sistem ini menggabungkan sistem, pengawasan di lapangan dan sistem digital yang langsung terintegrasi dengan sistem informasi manajemen di Ditjen Minerba.
"Apabila terjadi kegagalan loading di lokasi tertentu akan muncul notifikasi ke sistem Ditjen Minerba dan surat peringatan akan terkirim secara otomatis. Dengan demikian, dapat dilakukan corrective action secara cepat, tepat dan terukur," imbuh Arifin.
Kedua, PLN telah mengubah kontrak menjadi jangka panjang dengan perusahaan, sehingga Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 139 Tahun 2021 dapat diterapkan. Kontrak yang sebelumnya berfokus pada fleksibilitas sudah disempurnakan menjadi kontrak fixed jangka panjang.
Ketiga, PLN melakukan upaya extra ordinary di sisi unloading dalam rangka menambah kapasitas dan kecepatan pembongkaran. Keempat, PLN menyelesaikan masalah volume, logistik, kontrak, pengawasan dan enforcement, sehingga PLN memastikan pasokan batu bara dalam kondisi aman.
Kelima, volume pasokan batu bara ke PLTU PLN dari perusahaan tambang termuat dalam persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) yang wajib dipatuhi oleh perusahaan.**vol/jn
Berita Terkait :
- Investasi di Riau Paling Besar di Sumatra, Bahkan Kalahkan Jawa Tengah0
- Ini dia 5 Rekomendasi Film Romantis yang Cocok Ditonton di Hari Valentine0
- Harga BBM Pertamina Naik, Pertamax Turbo Jadi Rp13.500 per Liter0
- CPO Naik Daun Masa Depan Minyak Sawit Terancam0
- Erick Thohir : Indonesia Harus Jadi Produsen Bukan Konsumen Energi Hijau0
_Black11.png)









