- Kontribusi Besar Alih Daya PDC dalam Mendukung Pemenuhan Kebutuhan Energi Bagi Negeri
- KNARA Gelar Rapat Akbar di Inhu, Konflik HTI dan HGU Jadi Perhatian
- Bupati Asmar Minta JCH Meranti Doakan Kebaikan untuk Daerah
- Kejari Meranti Kembali Galakkan Jaksa Masuk Sekolah Ajak Siswa Sadar Dengan Hukum
- Saat Wisuda Sekolah Wirausaha Aisyiyah Riau, Hendry Munief Sebut Perempuan Berpotensi Gerakkan UMKM
- Dumai Expo 2026: Promosi Daerah Bangkitkan Ekonomi dan Pariwisata
- Walikota Pimpin Upacara HUT Kota Dumai ke-27, Soroti Program Unggulan
- Pesan Menteri Nusron untuk Jajaran di Riau: Pemimpin Harus Memudahkan Pelayanan bagi Masyarakat
- Ketika Seragam Polri Basah Keringat Demi Rakyat, Sejumlah Jembatan Inhil Rampung Tanpa Kendala
- Bupati Asmar Lepas Calon Haji Meranti, Ingatkan Fokus Ibadah di Tanah Suci
PTBA Bidik Rp.4,31 dari Hilirisasi Batu Bara

(Liputan6.com)
Vokalonline.com Dilansir Dari CNN Indonesia -- PT Bukit Asam Tbk atau PTBA menargetkan bisa mengantongi pendapatan sebesar US$300 juta per tahun, atau setara Rp4,31 triliun (kurs Rp14.396 per dolar AS) dari proyek hilirisasi batu bara. Hilirisasi batu bara ini meningkatkan nilai tambah dari mineral itu sehingga mendorong kenaikan pendapatan perusahaan.
"Kalau selama ini kami tergantung dari pasar ekspor atau pihak ketiga sekarang kami gunakan sendiri, kami olah sehingga bisa memanfaatkan batu bara dengan total revenue kira-kira hampir US$300 juta per tahun," ujar Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin dalam acara Mining Forum CNBC Indonesia, Rabu (24/3).
ia mengungkapkan perseroan saat ini tengah mempersiapkan sejumlah infrastruktur hilirisasi batu bara. Salah satunya, kata dia, proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME). Targetnya, pembangunan fasilitas gasifikasi batu bara bisa dimulai pada akhir 2021 paling lambat awal 2022, dengan masa konstruksi selama empat tahun."Jadi, kira-kira di awal 2025 kami harapkan DME ini sebagai substitusi elpiji bisa dinikmati oleh masyarakat yang 100 persen buatan dalam negeri dan tidak impor," tuturnya.
Selain itu, perusahaan tambang pelat merah itu juga telah mulai membangun PLTU mulut tambang. Perseroan menggenjot pelaksanaan proyek tersebut guna mendorong hilirisasi batu bara.
Ia menargetkan Bukit Asam menjalankan operasional (Commercial Operating Date/COD) PLTU mulut tambang terbesar di Indonesia dengan kapasitas 1.200 MW pada 2022 mendatang. Lokasi PLTU mulut tambang itu berada di Sumatera.
"Jadi, kami tidak lagi jual batu bara tapi sudah mulai menjual listrik. Ini basic dari hilirisasi sebenarnya," ucapnya.Sebelumnya, ia pernah mengungkapkan proyek gasifikasi batu bara menjadi DME memiliki nilai investasi US$2,1 miliar. Ada tiga perusahaan yang terlibat dalam proyek tersebut, meliputi PT Pertamina (Persero), Air Products dan Bukit Asam sendiri.
Mereka sedang dalam pembahasan perjanjian bisnis dan diharapkan kesepakatan bisa ditandatangani sebelum akhir 2020. Nantinya, terang Arviyan, investasi pembangunan proyek termasuk biaya produksi seluruhnya akan ditanggung oleh Air Products, mitra bisnis yang berasal dari Amerika Serikat. "Jadi setelah 20 tahun pabrik ini akan dimiliki oleh joint venture PTBA dan Pertamina. Itu opsinya," terang Arviyan belum lama ini.
(ulf/sfr)
Berita Terkait :
- Penjualan Vios Naik 500 Persen Karena Pajak Mobil Baru Gratis0
- Gubernur Jatim Khofifah \'Tolak\' Beras Impor0
- Bintan Buka Pintu untuk Wisatawan Singapura Mulai 21 April0
- Penggugat PKPU Sepatu Bata Ternyata Bekas Karyawan0
- Harga Emas Antam 23 Maret, Turun ke Rp.929 Ribu0
_Black11.png)









