- Diskusi dengan Wartawan, Syahrul Aidi Dorong Solusi Krisis Media Massa
- Gaungkan Semangat Hari Bumi, PEP Lirik Ajak Masyarakat Ubah Sampah Jadi Bernilai
- Pemkab Kuansing dan RAPP Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
- 21 Perkara Inkracht Dimusnakan Barang Bukti di Kejari Meranti
- 110 Jemaah Calon Haji Meranti Akan Berangkatkan Senin di Embarkasi Batam
- Rianto SH, MH Disorot, 70-an Peserta Ramaikan Seleksi KI Sumut 2026
- FORKI Riau Fokus TC Penuh Jelang Kejurnas Bandung, Perangkingan Atlet Digelar 26 April
- Temui Menteri ATR/BPN dan Dirjen Migas, Bupati Afni Perjuangkan Hak Rakyat Kandis dan Minas
- Pengedar Ganja di Banglas Dibekuk Berkat Layanan 110, Polisi Amankan BB dan Tes Urine Positif
- Stok BBM Kepulauan Meranti Aman, Warga Diimbau Beli di SPBU Sesuai Ketentuan UUD 1945
Bank Sentral Jepang Mulai Eksperimen Penerbitan Uang Digital
.jpg)
(cnbcindonesia)
Vokalonline.com Dilansir dari CNN Indonesia -- Bank sentral Jepang (BoJ) mulai melakukan eksperimen untuk menerbitkan mata uang digital pada Senin (5/4). Upaya ini dilakukan untuk mengikuti inovasi yang dilakukan oleh sektor swasta mereka.Dalam pernyataan yang dikutip dari Reuters, Senin (5/4), eksperimen ini akan dilakukan hingga Maret 2022. Dalam eksperimen ini, mereka akan fokus pada uji kelayakan teknis penerbitan, pendistribusian dan penukaran mata uang digital bank sentral (CBDC).
Setelah eksperimen selesai, BoJ akan melanjutkannya ke eksperimen fase kedua dengan meneliti fungsi mata uang digital yang lebih rinci, termasuk apakah mereka akan menetapkan batas jumlah CBDC yang dapat dimiliki setiap entitas.Jika perlu, bank sentral akan meluncurkan program percontohan yang melibatkan penyedia layanan pembayaran dan pengguna akhir.
"Meskipun tidak ada perubahan dalam sikap BOJ, saat ini tidak ada rencana untuk menerbitkan CBDC. Kami yakin memulai eksperimen pada tahap ini adalah langkah yang diperlukan," kata Direktur Eksekutif BoJ Shinichi Uchida.
Sejumlah bank sentral global saat ini sedang berlomba dalam mengembangkan mata uang digital. Itu dilakukan untuk memodernisasi sistem keuangan mereka, menangkal ancaman dari cryptocurrency dan mempercepat pembayaran domestik dan internasional.
China merupakan negara yang memimpin upaya tersebut. Saat ini BOJ telah mempercepat upaya untuk mengejar ketinggalan dari China itu.
(agt/sfr)
Berita Terkait :
- Baru 2,97 Persen Tenaker Pariwisata yang Divaksin Covid-190
- Laju IHSG Diprediksi Menguat, Tapi Terbatas 0
- BSI Integrasikan Sistem Layanan di Indonesia Timur 0
- IHSG Diprediksi Menguat Usai Kondisi Jenuh Jual0
- Dahlan Iskan Soroti Keuangan BUMN Karya 0
_Black11.png)









