- Ketika Seragam Polri Basah Keringat Demi Rakyat, Sejumlah Jembatan Inhil Rampung Tanpa Kendala
- Bupati Asmar Lepas Calon Haji Meranti, Ingatkan Fokus Ibadah di Tanah Suci
- Polsek Tebing Tinggi Beraksi Berhasil Sikat Pengedar Sabu 18,87 Gram
- FORKI Riau Kirim 5 Karateka ke Kejurnas Bandung, TC Penuh Dimulai di GOR Rumbai
- JK, Kerusuhan Poso, dan Dramatisasi di Era Algoritma
- Hendry Munief: Lampung Tak Lagi Sekadar Gerbang, Kini Menuju Pusat Ekonomi
- Penguatan Kesiapsiagaan Hadapi Musim Kemarau dan El Nino, Pemerintah Gelar Apel Siaga Karhutla
- Diskusi dengan Wartawan, Syahrul Aidi Dorong Solusi Krisis Media Massa
- Gaungkan Semangat Hari Bumi, PEP Lirik Ajak Masyarakat Ubah Sampah Jadi Bernilai
- Pemkab Kuansing dan RAPP Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
BRI Bentuk Divisi Khusus Untuk Lindungi Data Nasabah

(Bukareview)
Vokalonline.com Dilansir Dari CNN Indonesia -- Dalam upaya meningkatkan kesadaran dan kepedulian industri perbankan Indonesia tentang isu kerahasiaan data pribadi nasabah di tengah derasnya arus digitalisasi saat ini, Perbanas bekerja sama dengan BRI menyelenggarakan Data Privacy Webinar Series bertajuk Personal Data Protection di Era Digital.
Tanpa kepastian keamanan, persoalan data pribadi di era digital dapat mempengaruhi kepercayaan masyarakat yang berdampak pada pertumbuhan bisnis perusahaan. Direktur Digital dan Teknologi Informasi BRI Indra Utoyo mengatakan, selama ini BRI telah memiliki program data privacy yang menjamin kerahasiaan data nasabah.
Perlindungan itu ditambah oleh dua divisi yang dikhususkan mengeksekusi program data privacy, yakni Divisi Enterprise Data Management dan Desk Information Security. Selain bertanggung jawab atas manajemen data nasabah sesuai kaidah, kedua divisi ini juga menjaga keamanan siber berbagai produk dan transaksi digital BRI setiap hari."Kedua divisi ini harus bekerja sama dalam rangka mendukung data privacy program. Kemudian didukung oleh top management dari legal, compliance, risk management, policy and stakeholders dan nanti menjadi data privacy program supaya dapat status privacy ready. Jadi ada framework-nya, roadmap-nya," tutur Indra.
Praktik klasifikasi data, manajemen data, serta pengelolaan dan penyediaan arsitektur data selalu dijalankan BRI. Sementara dalam hal keamanan, Indra menyebut pihaknya telah membentuk sistem manajemen risiko dan arsitektur keamanan yang kuat demi kenyamanan nasabah.
Ke depannya, lanjut Indra, BRI akan mengadakan divisi khusus bernama Data Privacy Office untuk mengatur dan memastikan pemenuhan seluruh hak nasabah terkait data pribadi mereka. Di saat bersamaan, nasabah dapat menentukan sendiri batasan data-data pribadi untuk dikelola dan diakses BRI.
"Nanti customer bisa memberikan kontrolnya pada notice and policy, dia memberikan setuju atau enggak, kemudian consent and preference, kemudian atribut-atribut (data) apa yang boleh didisplay. Idealnya, kendali akan kembali kepada customer terkait datanya," kata Indra.
Seiring digitalisasi yang pesat karena pandemi, transaksi dan akses layanan keuangan juga bertumbuh signifikan. Sepanjang 2020, lalu lintas transaksi pada kanal elektronik perusahaan (mobile banking) tumbuh hampir 400 persen secara tahunan.Peningkatan tersebut menuntut perusahaan mempersiapkan kapasitas infrastruktur digital, terlebih tren ini diprediksi berlanjut dengan banyaknya kerja sama yang dijalin BRI dengan berbagai perusahaan tekfin dan e-commerce. Kolaborasi ini antara lain membuat praktik berbagi data nasabah menjadi hal umum antara para pelaku usaha.
"Bagaimana kita bisa menyeimbangkan urusan personal data ini bisa kita lindungi dari tiga hal, yakni value-nya, security-nya, dan juga exchange-nya. Trust (nasabah) tidak akan terjadi kalau misalnya kita (jamin) data privacy tetapi tidak memberikan value bagi customer," kata Indra.
Dalam kesempatan itu, Ketua Umum Perbanas yang juga Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo menegaskan kesadaran dan kepedulian industri perbankan tentang isu keamanan data harus ditingkatkan. Data nasabah merupakan aset vital bagi industri perbankan, yang bisnisnya tergantung pada kepercayaan masyarakat.
Isu ini dinilai urgen karena data pribadi banyak digunakan untuk analisa customer behaviour, namun juga rentan terhadap ancaman siber. Maraknya kasus pelanggaran data pribadi belakangan ini membuat nasabah sadar dan peduli tentang bagaimana data mereka digunakan dalam proses.
"Bank sebagai jasa keuangan yang dipercaya nasabah untuk mengelola data pribadinya, tentunya harus memperlakukan data sebagai aset yang vital, bukan hanya untuk menghasilkan value business, tetapi paling penting juga harus memperhatikan mitigasi dari resiko data breach, yaitu dengan melaksanakan personal data protection," ungkap Tika.
(rea)
Berita Terkait :
- PTBA Bidik Rp.4,31 dari Hilirisasi Batu Bara0
- Penjualan Vios Naik 500 Persen Karena Pajak Mobil Baru Gratis0
- Gubernur Jatim Khofifah \'Tolak\' Beras Impor0
- Bintan Buka Pintu untuk Wisatawan Singapura Mulai 21 April0
- Penggugat PKPU Sepatu Bata Ternyata Bekas Karyawan0
_Black11.png)









