- Hendry Munief: Lampung Tak Lagi Sekadar Gerbang, Kini Menuju Pusat Ekonomi
- Penguatan Kesiapsiagaan Hadapi Musim Kemarau dan El Nino, Pemerintah Gelar Apel Siaga Karhutla
- Diskusi dengan Wartawan, Syahrul Aidi Dorong Solusi Krisis Media Massa
- Gaungkan Semangat Hari Bumi, PEP Lirik Ajak Masyarakat Ubah Sampah Jadi Bernilai
- Pemkab Kuansing dan RAPP Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
- 21 Perkara Inkracht Dimusnakan Barang Bukti di Kejari Meranti
- 110 Jemaah Calon Haji Meranti Akan Berangkatkan Senin di Embarkasi Batam
- Rianto SH, MH Disorot, 70-an Peserta Ramaikan Seleksi KI Sumut 2026
- FORKI Riau Fokus TC Penuh Jelang Kejurnas Bandung, Perangkingan Atlet Digelar 26 April
- Temui Menteri ATR/BPN dan Dirjen Migas, Bupati Afni Perjuangkan Hak Rakyat Kandis dan Minas
Inggris vs Iran di Piala Dunia 2022 Diganggu Bumbu Politik

Jakarta, VokalOnline.Com - Laga pembuka Grup B Piala Dunia 2022 akan mempertemukan Inggris vs Iran, Senin (21/11) pukul 20.00 WIB. 'Bumbu' politik akan menjadikan pertandingan ini sarat gengsi.
Tekanan dunia barat menjurus kepada Iran sebelum Piala Dunia 2022 berlangsung. Persoalan HAM menjadi alasan Iran dianggap harus cabut dari Piala Dunia 2022. Ukraina menjadi salah satu negara yang ngotot ingin menggantikan Iran.
Iran memilih tetap melanjutkan langkah ke Qatar. Namun pelatih timnas Iran, Carlos Queiroz membebaskan para pemain melakukan protes terhadap sikap pemerintah selama beraksi di Piala Dunia 2022.
Protes pemain Iran sudah dilakukan dalam FIFA Matchday pada September lalu. Dalam pertandingan uji coba melawan Senegal, pemain Iran mengenakan jaket hitam untuk menutupi logo tim nasional. Sikap itu diterjemahkan sebagai bentuk duka cita terhadap kematian Mahsa Amini sekaligus 348 demonstran yang meninggal dalam unjuk rasa.
Bukan tak mungkin bentuk protes serupa akan kembali dilakukan pemain Iran di lapangan. Terlebih lagi kemegahan Piala Dunia adalah panggung tepat untuk menunjukkan sikap tertentu selama tidak menyalahi aturan FIFA.
Isu politik juga tak bisa lepas dari Inggris di Piala Dunia. Sebab Negeri Ratu Elizabeth itu memboikot pejabat Iran untuk datang ke Inggris dan membekukan harta-harta yang disimpan di Inggris. Sanksi itu diberlakukan usai demonstrasi besar-besaran di Iran.
Belum lagi soal rencana penggunaan ban kapten pelangi yang akan dipakai oleh Harry Kane di timnas Inggris untuk mendukung kampanye LGBT. Pemerintah Qatar sudah mewanti-wanti bahwa hal tersebut berpotensi melanggar hukum setempat.
Mau tak mau, Piala Dunia akan menjelma sebagai arena unjuk sikap dari banyak orang yang ada di dalamnya, termasuk pemain hingga penonton. Namun tak sedikit pula, ada orang yang sebatas hanya ingin menonton pertandingan sepak bola antara raksasa dari dua benua.
Pertandingan Inggris vs Iran boleh jadi sarat dengan intrik politik karena latar belakang masing-masing negara. Namun untuk 90 menit saja di lapangan, tentu jutaan pasang mata yang menyaksikan Piala Dunia ingin laga tersebut steril dari drama di luar arena.**Syafira
Berita Terkait :
- Ronaldo Ungkap Alasan Tolak Gaji Rp5,6 Triliun dari Klub Saudi0
- Jordi dan Sandy Resmi WNI, Naturalisasi Kebiasaan Masa Kini?0
- Piala Dunia 2022: Peringatan Keras Pelatih Argentina untuk Dybala0
- Profil Korea Selatan di Piala Dunia 2022 Berharap Taji Son Heung Min0
- Apa Isi Percakapan Ronaldo dan Bruno Fernandes di Video Viral0
_Black11.png)









