Breaking News
- Pemkab Kuansing dan RAPP Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
- 21 Perkara Inkracht Dimusnakan Barang Bukti di Kejari Meranti
- 110 Jemaah Calon Haji Meranti Akan Berangkatkan Senin di Embarkasi Batam
- Rianto SH, MH Disorot, 70-an Peserta Ramaikan Seleksi KI Sumut 2026
- FORKI Riau Fokus TC Penuh Jelang Kejurnas Bandung, Perangkingan Atlet Digelar 26 April
- Temui Menteri ATR/BPN dan Dirjen Migas, Bupati Afni Perjuangkan Hak Rakyat Kandis dan Minas
- Pengedar Ganja di Banglas Dibekuk Berkat Layanan 110, Polisi Amankan BB dan Tes Urine Positif
- Stok BBM Kepulauan Meranti Aman, Warga Diimbau Beli di SPBU Sesuai Ketentuan UUD 1945
- Pasutri Diringkus Sat Resnarkoba Polres Kep Meranti, Diduga Jadi Pengedar Ekstasi
- Pemkab Siak dan Utusan Presiden Luruskan Informasi Dokter Spesialis, Pelayanan Harus Tetap Berjalan
Krisis Pangan Sri Lanka Makin Jadi, Petani Didesak Tanam Padi

Jakarta, VokalOnline.Com - Pemerintah Sri Lanka mendesak petani untuk menanam padi selama lima sampai sepuluh hari ke depan. Hal ini dilakukan untuk mengatasi krisis pangan yang dialami negara itu.
Kekurangan pangan ini terjadi saat Sri Lanka tengah mengalami krisis ekonomi terburuk selama lebih dari 70 tahun. Krisis ini membuat negara itu kekurangan bahan pokok makanan hingga inflasi melonjak dengan harga naik ke rekor tertinggi.
Desakan untuk petani menanam padi sesegera mungkin disampaikan oleh Menteri Pertanian Sri Lanka, Mahinda Amaraweera. Ia mengatakan saat ini situasi krisis pangan menjadi lebih buruk.
"Kami meminta semua petani untuk masuk ke ladang mereka dalam lima hingga sepuluh hari ke depan dan menanam padi," katanya, dikutip dari BBC, Kamis (2/6/2022).
Pejabat Sri Lanka juga telah mencari cara untuk meningkatkan produksi pangan. Salah satunya meminta bantuan dari bank makanan yang merupakan program dari Asosiasi Asia Selatan untuk Kerjasama Regional (South Asian Association for Regional Cooperation/SAARC).
SAARC sendiri telah memasok beras dan barang-barang lainnya ke negara-negara yang membutuhkan. Komisaris Departemen Makanan Sri Lanka J Krishnamoorthy mengatakan pihaknya sudah mulai proses meminta bantuan kepada SAARC.
Menurut, Krishnamoorthy Sri Lanka membutuhkan sekitar 100.000 metrik ton makanan dalam bentuk sumbangan atau penjualan bersubsidi.
Selain krisis pangan, Sri Lanka mengalami krisis obat-obatan, bahan bakar, dan kebutuhan pokok lainnya. Tingkat inflasi Sri Lanka naik ke rekor 39,1% pada Mei. Itu telah mencapai angka tertinggi dari sebelumnya 29,8% pada bulan April.
Tingginya inflasi menyebabkan masyarakat mengeluarkan uang lebih sedikit untuk berbelanja. Hal ini tentu berdampak kepada pendapatan negara.
Kemudian, pemerintah Sri Lanka memutuskan untuk menaikkan pajak pertambahan nilai (PPN) dari 8% menjadi 12%. Selain itu, pajak perusahaan akan naik pada Oktober dari 24% menjadi 30%.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan pemerintah sebesar 65 miliar rupee Sri Lanka atau US$ 179,9 juta. **Fira
Berita Terkait :
- IHSG Diperkirakan Bergerak Variatif Cenderung Melemah0
- INDONESIA Rupiah Melemah Jelang Rilis Data Inflasi Mei 20220
- Airlangga Apresiasi Dukungan Dan Kerja Sama Bilateral Dengan Singapura0
- BPK Temukan DKI Kelebihan Bayar Gaji Dan Belanja Barang Pada 20210
- Menkeu Sebut Anggaran Perlinsos Capai Rp441,3 Triliun Pada 20230
Write a Facebook Comment
Tuliskan Komentar anda dari account Facebook
View all comments
_Black11.png)









