- Diskusi dengan Wartawan, Syahrul Aidi Dorong Solusi Krisis Media Massa
- Gaungkan Semangat Hari Bumi, PEP Lirik Ajak Masyarakat Ubah Sampah Jadi Bernilai
- Pemkab Kuansing dan RAPP Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting
- 21 Perkara Inkracht Dimusnakan Barang Bukti di Kejari Meranti
- 110 Jemaah Calon Haji Meranti Akan Berangkatkan Senin di Embarkasi Batam
- Rianto SH, MH Disorot, 70-an Peserta Ramaikan Seleksi KI Sumut 2026
- FORKI Riau Fokus TC Penuh Jelang Kejurnas Bandung, Perangkingan Atlet Digelar 26 April
- Temui Menteri ATR/BPN dan Dirjen Migas, Bupati Afni Perjuangkan Hak Rakyat Kandis dan Minas
- Pengedar Ganja di Banglas Dibekuk Berkat Layanan 110, Polisi Amankan BB dan Tes Urine Positif
- Stok BBM Kepulauan Meranti Aman, Warga Diimbau Beli di SPBU Sesuai Ketentuan UUD 1945
Roda Ekonomi Berputar, Harga Minyak Dunia Merangkak

(kompasmoney)
Vokalonline.com Dilansir dari CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia menguat satu persen pada perdagangan Selasa (6/4) waktu setempat. Harga minyak terangkat data ekonomi yang mulai menunjukkan pemulihan ekonomi di Amerika Serikat (AS) dan China.
Mengutip Antara, Rabu (7/4), harga minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) pengiriman Mei naik 1,2 persen menjadi US$59,33 per barel di New York Mercantile Exchange.
Sementara, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni terapresiasi 1 persen menjadi US$62,74 per barel di London ICE Futures Exchange.Harga minyak menguat usai data menunjukkan aktivitas jasa AS menyentuh rekor tertinggi pada Maret. Penjualan sektor jasa China juga meningkat paling tajam selama tiga bulan terakhir.
Selain itu, Inggris berencana melonggarkan lebih banyak pembatasan pada 12 April mendatang, memungkinkan bisnis, termasuk semua toko, pusat kebugaran, salon rambut, dan tempat rekreasi luar ruangan akan dibuka kembali.
Di sisi lain, OPEC+ setuju untuk mengurangi pembatasan produksi sebesar 350 ribu barel per hari (bph) pada Mei, 350 ribu barel per hari pada Juni dan lebih lanjut 400 ribu barel per hari atau lebih pada Juli."Meskipun OPEC+ bertentangan dengan apa yang dipikirkan oleh sebagian besar pelaku pasar dan tim risetnya sendiri, meningkatkan produksi minyaknya secara signifikan selama tiga bulan ke depan, pasar sekarang memberi isyarat tidak masalah," ungkap Analis Pasar Minyak Rystad Energy Louise Dickson.
Badan Informasi Energi AS (EIA) melansir di Amerika Serikat, produksi minyak diperkirakan turun 270 ribu bph pada 2021 menjadi 11,04 juta bph. Penurunan produksi ini lebih tajam dari perkiraan bulanan sebelumnya, yaitu 160 ribu bph.
(wel/bir)
Berita Terkait :
- THR PNS Akan Cair Tanpa Potongan 0
- Harga Emas Antam Hari ini, Turun ke Rp.920 Ribu0
- Bank Sentral Jepang Mulai Eksperimen Penerbitan Uang Digital 0
- Baru 2,97 Persen Tenaker Pariwisata yang Divaksin Covid-190
- Laju IHSG Diprediksi Menguat, Tapi Terbatas 0
_Black11.png)









